Sianida
Sianida terkadang masih suka digunakan di pertambangan untuk mengekstraksi emas dan perak. Hal ini yang masih menjadi kontroversi terhadap keselamatan pertambangan emas dan perak, karena kebocoran sianida bisa mempengaruhi kesehatan manusia dan makhluk hidup disekitarnya.
Sianida terkadang masih suka digunakan di pertambangan untuk mengekstraksi emas dan perak. Hal ini yang masih menjadi kontroversi terhadap keselamatan pertambangan emas dan perak, karena kebocoran sianida bisa mempengaruhi kesehatan manusia dan makhluk hidup disekitarnya.
Sianida merupakan racun yang berpotensi mematikan, karena zat ini
membuat tubuh tidak dapat menggunakan oksigen untuk mempertahankan
tubuhnya. Zat ini bisa berbentuk gas seperti hidrogen sianida atau dalam
bentuk kristal seperti potasium sianida atau sodium sianida.
Gas sianida dapat diserap melalui inhalasi (paru-paru), kulit atau
ingesti (mulut menuju perut) dan didistribusikan ke seluruh tubuh. Jika
zat ini masuk ke dalam tubuh bisa menghambat kerja enzim tertentu di
dalam sel, mengganggu penggunaan oksigen oleh sel dan dapat menyebabkan
kematian sel. Pada dosis tertentu, zat ini dapat menyebabkan kematian
dalam waktu 15 menit saja akibat kekurangan oksigen.
Racun sianida biasanya dioleskan pada pinggir gelas, botol minum atau
disuntikkan ke dalam batu es. Sianida hanya bereaksi sebagai hidrogen
sianida bebas, oleh karena itu garam-garam yang ditelan harus bertemu
dengan air atau asam lambung sebelum membebaskan asam hidro-sianida,
proses ini hanya butuh waktu beberapa detik.
Penggunaan racun sianida untuk bunuh diri digunakan tokoh
kontroversial Nazi, Hitler yang diduga minum kapsul sianida sebelum
menembakkan kepalanya.
Arsenik
Zat lain yang juga populer digunakan untuk kejahatan adalah arsenik yang merupakan unsur paling umum ke-20 di kerak bumi. Arsenik terjadi dalam berbagai bentuk, tapi zat ini akan sangat beracun apabila sebagai ion terutama jika bereaksi dengan kandungan sulfur dari enzim tertentu.
Zat lain yang juga populer digunakan untuk kejahatan adalah arsenik yang merupakan unsur paling umum ke-20 di kerak bumi. Arsenik terjadi dalam berbagai bentuk, tapi zat ini akan sangat beracun apabila sebagai ion terutama jika bereaksi dengan kandungan sulfur dari enzim tertentu.
Seseorang yang terpapar zat ini dalam dosis yang tidak mematikan,
kedepannya dapat menyebabkan keracunan kronis dan karsinogenik (zat
penyebab kanker). Karenanya arsenik masih menjadi perdebatan terhadap
keselamatan pekerja di industri yang masih menggunakan arsenik seperti
insektisida atau perusahaan pembasmi gulma serta ekstraksi bijih timah
dan tembaga.
Gejala-gejala keracunan arsenik akut dapat terjadi dalam dua bentuk.
Pertama mengakibatkan kelumpuhan parah yang dapat terjadi dalam waktu
1-2 jam dan biasanya sering ditandai dengan tanda-tanda mengigau atau
kegilaan. Sedangkan yang kedua dalam gangguan pencernaan seperti mual,
sakit kepala, nyeri hebat, muntah dan diare.
Zat arsenik dapat mematikan dengan cara merusak sistem pencernaan
orang tersebut sehingga menyebabkan kematian karena shock. Beberapa
tokoh yang pernah keracunan arsenik adalah Napoleon Bonaparte dan Munir.
Jika berada dalam bentuk unsur, maka arsenik tidak berbahaya. Tapi
jika dalam bentuk oksidanya yaitu arsen dioksida, maka bersifat racun
yang berbentuk serbuk putih serta larut dalam air.
Arsenik tidak berasa dan sukar untuk dideteksi. Makanan atau minuman
yang dicampur arsenik tidak akan berasa. Senyawa ini dulu disebut ‘bubuk
warisan’ karena digunakan untuk membunuh orang agar bisa mendapatkan
warisannya dan kematiannya biasanya dianggap wajar.
Hal ini pula yang terjadi pada Napoleon Bonaparte, kaisar Perancis
ini sebelumnya diyakini meninggal akibat kanker lambung. Tapi setelah
hampir seratus tahun baru diketahui bahwa ia meninggal akibat keracunan
arsenik berdasarkan analisis rambutnya yang mengandung arsenik dengan
dosis diambang batas aman.
Tetrodoksin
Zat ini biasanya terdapat di dalam ikan puffer (ikan buntal) dan bisa menyebabkan keracunan tetrodotoksin neurotoksin, ikan ini banyak terdapat di Asia terutama di Jepang. Dosis 1-2 gram tetrodoksin murni bisa mematikan dan diperkirakan efeknya melebihi sianida.
Zat ini biasanya terdapat di dalam ikan puffer (ikan buntal) dan bisa menyebabkan keracunan tetrodotoksin neurotoksin, ikan ini banyak terdapat di Asia terutama di Jepang. Dosis 1-2 gram tetrodoksin murni bisa mematikan dan diperkirakan efeknya melebihi sianida.
Toksin ini akan terkonsentrasi di hati, organ kelamin dan kulit
binatang. Selain itu zat ini akan tetap stabil jika terkena suhu tinggi
dan larut dalam air.
Zat ini berbentuk heterosiklik kecil dan molekul organiknya dapat
bekerja secara langsung di saluran elektrik natrium yang aktif di
jaringan saraf. Karenanya orang yang keracunan zat ini disebabkan oleh
kerusakan saraf.
Orang yang keracunan tetrodoksin biasanya setelah mengonsumsi ikan
puffer atau ikan buntal dalam jumlah tertentu. Namun terkadang racun ini
ditemukan dalam bentuk bubuk obat yang dimasukkan ke dalam aliran darah
atau melalui luka yang terbuka. Jika diberi dosis tetrodoksi dalam
jumlah mematikan yaitu lebih dari 1 mg, bisa menyebabkan kematian.
Botulisme
Botulisme adalah penyakit infeksi paling berbahaya yang disebabkan oleh bakteri Clostridium botulinum. Racun dari bakteri ini dikenal paling kuat sehingga dilarang penggunaannya sebagai senjata biologis dalam peperangan.
Botulisme adalah penyakit infeksi paling berbahaya yang disebabkan oleh bakteri Clostridium botulinum. Racun dari bakteri ini dikenal paling kuat sehingga dilarang penggunaannya sebagai senjata biologis dalam peperangan.
Infeksi racun ini menyebabkan kelumpuhan akut pada kedua sisi saraf
tubuh (saraf karnial) dan saraf yang melakukan kontrol otomatis serta
kesadaran dalam tubuh.
Selain itu bakteri ini dikenal sebagai bakteri anaerob yaitu dapat
bertahan hidup, mereproduksi dirinya sendiri serta menghasilkan racun
yang paling mematikan dan efektif pada tingkat oksigen yang sangat
rendah. Racun dari bakteri ini akan menyerang sistem saraf dan membuat
seseorang meninggal dengan rasa sakitnya.
Keracunan botulisme biasanya akibat makanan yang dikonsumsi atau
melalui suntikan ke dalam tubuh yang dapat merusak sistem saraf serta
melumpuhkan otot dengan menghambat pelepasan neurotransmitter
acetycholine dari saraf.
By: Khafka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar